Jual Kucing Di Pasar Jatinegara – Kucing-kucing yang berakhir di Mercado Barito seolah terjebak dalam lingkaran setan. Dealer yang tidak tahu cara merawat kucing menyebabkan penyebaran virus mematikan.
Foto sampul: Salah satu kucing sakit yang dijual di Pasar Barito, Jakarta Selatan, Kamis (17/3/2022). (Andhika Prasetia/detikcom)
Jual Kucing Di Pasar Jatinegara
Seekor kucing berbulu coklat meringkuk perlahan dalam kandang sempit berbau pesing di salah satu kios Pasar Hewan Barito, Jakarta Selatan, Rabu, 16 Maret 2022. Matanya berair dan hidungnya mengeluarkan lendir kental. Pemilik warung, Gepeng – bukan nama sebenarnya – mengatakan, kucing tersebut berusia 1 tahun dan sudah ada di sana sejak kecil menunggu pembeli.
Jual Paws N Tail Kalung Kucing Bandana Motif Bunga Putih Terbaik
Gepeng menjual kucing tersebut dengan harga Rp 1,3 juta. Ia mengaku mendapat kucing tersebut dari seorang penggemar di Jakarta. Aquarist tersebut menjual kucing tersebut kepadanya karena dia merasa memiliki terlalu banyak kucing dan tidak dapat lagi merawatnya.
Tim detikX memutuskan membeli kucing tersebut untuk diperiksa kesehatannya dan dirawat. Gepeng bersedia menjualnya seharga Rp 850.000 beserta keranjang untuk membawanya. Kami menamai kucing itu Kirun.
Kirun kami bawa ke Rumah Sakit Hewan Jakarta (RSHJ) di Ragunan, Jakarta Selatan. Selama perjalanan, Kirun tampak menangis sambil terus bersin.
Jelas sekali (Kirun) bukanlah ras murni. Ini adalah ras campuran antara kucing domestik berbulu panjang dan kucing kucing coklat. Telah dicampur berkali-kali hingga menghasilkan corak warna dan panjang bulu seperti itu. Minimal (Kirun) itu hasil tiga generasi.”
Pdf) Pemrograman Kembali Pasar Hewan Jatinegara: Hewan Peliharaan Sebagai Magnet Komunitas
Di RSHJ, Dian Martin, dokter hewan, melakukan pemeriksaan fisik awal dengan mengamati dan meraba seluruh tubuh Kirun. Menurutnya, secara umum kondisi Kirun cukup buruk. Berat badannya hanya 3,4 kilogram, sedangkan kucing berumur satu setengah tahun biasanya memiliki berat 4 hingga 5 kilogram.
Menurut dokter Martin, Kirun mengalami infeksi saluran pernapasan dan diduga terjangkit feline infectious peritonitis (FIP). Sebab di dalam perut anda terdapat gelembung-gelembung air seperti balon.
“Kondisi Kirun buruk. Saya curiga dia memiliki FIP. Penyebabnya adalah virus corona pada kucing. Ini perlu segera diuji,” kata dr Martin.
RSHJ tidak memiliki sumber daya untuk mengkonfirmasi kecurigaan Dr. Martin. Alhasil, Kirun hanya menjalani tes darah di sana. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, Kirun diindikasikan mengalami infeksi sel darah putih.
Jual Aksesoris Hewan Peliharaan Mulai Rp 5 Ribuan
Dr Martin merekomendasikan agar Kirun dirawat di rumah sakit selama lima hari. Namun karena peralatan RSHJ kurang lengkap dan ingin mendengar pendapat dokter lain, kami memindahkan Kirun ke Klinik Hewan Amore di Pejaten, Jakarta Selatan.
Lala, dokter hewan yang memeriksa Kirun di Klinik Hewan Amore, mengatakan kondisi fisik Kirun kurang baik berdasarkan hasil pemeriksaan darah RSHJ. Menurutnya, Kirun sangat kurus. Tulang rusuknya bisa dirasakan secara langsung.
Dokter Lala kemudian memberikan makanan kepada Kirun, namun Kirun enggan memakannya. “Kirun menderita gizi buruk dan dehidrasi,” kata dr Lala.
Berbeda dengan Dr. Martin, Dr. Lala tidak melihat adanya indikasi bahwa Kirun mengidap FIP. Memang benar perutnya agak besar, namun menurutnya hal itu tidak mengkhawatirkan. Untuk pertolongan pertama, Kirun diberikan cairan infus untuk memulihkan staminanya.
Pocari Sweat Kaleng Dus ( 330 Ml X 24 Pcs ) 1 Dus
Dokter Lala kemudian menyarankan agar Kirun dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu yang tidak dapat diprediksi. Ia akan melihat kondisi Kirun selama tiga hari pertama untuk menentukan pengobatan selanjutnya.
Kami menguji klaim Gepeng, ternyata salah. Menurut pemilik Cattery Manggala, Andre Kriesniawan, Kirun bukanlah ras Himalaya murni. Kucing himalaya merupakan hasil persilangan kucing persia dan siam. Kucing himalaya memiliki beberapa ciri antara lain kaki pendek, tubuh kuat, dan mata biru. Namun kucing tertua di kios Gepeng tidak bermata biru.
“Yang jelas (Kirun) bukan ras murni. Ini adalah ras campuran antara kucing domestik berbulu panjang dan kucing kucing coklat. Telah dicampur berkali-kali hingga menghasilkan corak warna dan panjang bulu seperti itu. Minimal (Kirun) hasil tiga generasi, jelas Andre kepada wartawan detikX pekan lalu.
Bahkan, di kalangan pecinta kucing, Pasar Hewan Barit terkenal bermasalah. Banyak yang percaya bahwa semua kucing di pasar ini tertular penyakit ini. Dari penyakit kulit biasa seperti jamur hingga penyakit mematikan yang disebabkan oleh virus berbahaya. Bahkan klaim tentang kucing yang dibuat oleh para pedagang pun patut diragukan.
Bagaimana ‘marketplace’ Jadi Ladang Subur Perdagangan Satwa Ilegal, Dan Shopee Paling Digemari
Seekor kucing yang diklaim pedagang sebagai British Shorthair mengalami kejang dan menjulurkan lidah di Pasar Barito, Jakarta Selatan, Kamis (17/3/2022).
Bau pesing yang menyengat selalu menyapa kami setiap memasuki kios penjual kucing di pasar Barito. Bau tidak sedap ini berasal dari kucing yang tidak diberi kotoran atau alas tidur. Oleh karena itu, urin dan fesesnya dibiarkan begitu saja.
Mangkuk makanan dan air kucing terlihat kotor dan tidak segar. Beberapa kucing juga terlihat timpang karena permukaan kandang besi yang tidak rata atau berjauhan membuat kucing sulit berdiri.
Ketika malam tiba dan para pedagang harus kembali ke rumah, mereka meninggalkan kucing-kucing tersebut di kandang yang terkunci dan harus berdesak-desakan di ruangan berukuran 2×2 meter.
Foto: Berburu Hewan Peliharaan Di Pasar Barito
Jika hewan kehujanan atau pedagang tidak tahan dengan baunya, mereka memandikan kucing sembarangan. Mereka membasahi dan menggosok tubuh kucing itu dengan sampo yang tidak diketahui mereknya sampai ke kepala. Berdasarkan pantauan tim detikX, ada anak kucing yang matanya merah dan berair karena terkena sampo.
Di Mercado Barito, kucing diperjualbelikan tanpa aturan yang jelas. Tidak ada standar pembersihan kandang, maupun standar kesehatan hewan. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta Suharini Eliawati mengatakan pihaknya tidak bisa mengatur hal tersebut. Ia hanya yakin para pedagang akan merawat hewannya dengan baik.
“Pasti rekan-rekan pedagang tahu bahwa angka kematian yang tinggi juga merugikan mereka,” kata Suharini kepada wartawan detikX, pekan lalu.
Ada beberapa jenis kucing yang beredar di pasaran, meski hanya sekedar keluhan dari penjual. Dari British Shorthair, Sphynx, Ragdoll, Maine Coon, Angora Turki, Persia, Himalaya, bahkan Bengal. Kucing-kucing itu tidak memiliki riwayat kesehatan yang jelas. Kebanyakan kucing di sana bahkan tidak memiliki catatan vaksinasi.
Pusat Grosir Makanan Kucing Terdekat Di Indonesia
Meski begitu, harga kucing ini cukup mahal. Harga awal Rp 600 ribu dan termahal Rp 20 juta.
Padahal, sekilas kondisi Anda tampak sehat. Namun jika dicermati, banyak kucing yang mengalami gangguan kesehatan, mulai dari masalah jamur, lesi, kejang, hingga kutil di sekitar matanya.
Pemilik Manggala Cattery Andrie Kriesnawan menceritakan pengalamannya membeli kucing di sana yang membuatnya kapok. Pada tahun 2010, dia membeli dua kucing Himalaya. Ia menjadi tertarik karena dealer menunjukkan kepadanya catatan vaksinasi kedua kucing tersebut. Andrie pun menanyakan tentang silsilahnya, namun sang dealer tidak mampu menunjukkan sertifikat silsilahnya, yaitu lembaran yang menjelaskan silsilah dan asal usul kucing tersebut.
Pedagang itu mengatakan dia lupa memasukkan surat itu dan berjanji akan mengirimkannya ketika dia menemukannya. Andrie begitu saja mempercayainya dan langsung membawa kedua kucing tersebut untuk diperiksa di klinik. Sesampainya di klinik, ia mengetahui bahwa surat vaksinasi yang dibawa Andrie bukanlah surat untuk kedua kucing yang dibelinya. Ia baru menyadari bahwa identitas yang tertulis di buku vaksinasi berbeda dengan kondisi dan karakteristik kucing.
Jual Kopi Bubuk Cap Bintang Terbaru
Beberapa bulan kemudian, salah satu kucing yang dibeli Andrie mati. Kucing tersebut dinyatakan mengalami gagal ginjal karena kondisi genetik.
“Saya tidak diberitahu riwayat kesehatan kucing tersebut, sehingga saya tidak bisa melakukan tindakan pencegahan,” kata Andrie.
Di media sosial, banyak yang menyayangkan telah membeli kucing di Mercado Barito. Salah satu penyesalannya adalah karena kucing yang saya beli mati dalam beberapa hari. Di Google Review, review pembeli kucing Barito juga mengungkap permasalahan serupa.
Dua pengusaha yang hadir, Gepeng dan Karyo yang tidak disebutkan nama aslinya membenarkan beragam pendapat konsumen. Karyo juga mengatakan, beberapa pembeli kembali ke Mercado Barito dengan marah karena kucing yang dibelinya mati beberapa hari setelah membelinya dari sana.
Panduan Membeli Anak Anjing: Menemukan Breeder Yang Tepat
“Ada yang marah dan tidak terima,” kata Karjo. “Setahu kami, kucing di sini kebanyakan berasal dari luar kota. Oleh karena itu, syaratnya adalah sebagai berikut.”
Kucing sakit yang dijual di Pasar Barito sudah menjadi rahasia umum. Dokter hewan di Jakarta, Ayu Setiawati, mengatakan banyak kliennya yang tidak bisa menerima kenyataan membeli kucing dari sana. Padahal, menurut Ayu, seluruh dokter hewan di Jakarta sudah hafal kalau kucing-kucing di sana pasti sakit.
“Itu tidak sebanding dengan harga yang mereka bayar,” kata dr Ayu. “Banyak pelanggan saya yang marah karena membelinya dengan harga tinggi, padahal ternyata tidak sehat. Hal ini cukup sering terjadi.”
Ayu menjelaskan, pasien Pasar Barito kerap mengidap virus panleukopenia. Virus ini menginfeksi kucing dengan membunuh sel-sel yang aktif membelah di sumsum tulang, usus, dan janin yang sedang berkembang. Penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh seperti urin, feses, dan sekret hidung.
Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta.
“Hampir semua pasien saya di Barito tertular virus panleukopenia,” katanya, “virus panleukopenia sangat persisten di lingkungan jika tidak didesinfeksi dengan benar.”
Karena sifat panleukopenia yang dapat bertahan di lingkungan, dr Ayu menduga penularan virus ini di Mercado Barito terjadi karena para pedagang belum memahami pentingnya disinfektan untuk membersihkan kandang kucing yang terpapar virus. Bisa jadi, kata dia, kandang yang digunakan kucing penderita panleukopenia digunakan untuk kucing lain.
Namun, banyak masyarakat yang belum mengetahui permasalahan penjualan kucing di Mercado Barito. Oleh karena itu, pasar ini masih memiliki pelanggan hingga saat ini.
Salah satu konsumen, Billy, asal Ciledug, Tangerang, mengaku tertarik membeli kucing di Pasar Barito atas rekomendasi temannya. Apalagi Anda sudah lama mengenal Mercado Barito sebagai tempat jual beli hewan.
Saatnya Korban Bicara
“Ternyata ada kebutuhan di dekat sini. Jadi saya belikan untuk anak saya yang sudah lama menginginkan kucing,” ujarnya kepada wartawan detikX, pekan lalu.
Billy membeli kucing Maine Coon umur 3 bulan seharga Rp 2,3 juta dari harga awal Rp 2,7 juta. Kucing tersebut belum divaksin, tidak memiliki dokumen kesehatan dan tidak memiliki sertifikat silsilah.
Kepala Dinas DKPKP DKI Jakarta Suharini Eliawati mengatakan, minimnya edukasi terhadap hewan tidak hanya bagi pedagang, tapi juga bagi pedagang.
Harga kucing hutan di pasar jatinegara, jual anjing di pasar jatinegara, harga kucing pasar jatinegara, harga kucing persia di pasar jatinegara, souvenir di pasar jatinegara, harga anjing di pasar jatinegara, pasar hewan jatinegara kucing, harga kucing di pasar jatinegara, beli kucing di pasar jatinegara, kucing di pasar jatinegara, pasar kucing jatinegara, harga kucing di pasar hewan jatinegara