Makalah Pelestarian Flora Dan Fauna – Makalah Geografis Sebaran Flora dan Fauna di Indonesia dan Dunia I S U S UOLEhMUH. FADELMUH. IHSANRIJALDIVYAMONIKA SENGAPUTRIYANASMA NEGERI 22 MAKASSAR 2019/ Kata Pengantar
Penulis dapat menyelesaikan karya berjudul “Tumbuhan dan Hewan” ini berkat kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dan hidayah-Nya. Penulis mendapat bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak untuk menyelesaikan artikel ini. Sehubungan dengan hal tersebut, penulis memberikan apresiasi kepada para dosen ilmiah. Akhir kata, penulis menyadari bahwa karya ini masih mempunyai banyak kekurangan dan kelemahan baik dari segi isi maupun sistem. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan dan wawasan penulis. Oleh karena itu, penulis meyakini kedepannya berbagai pihak akan memberikan saran dan kritik yang bersifat membangun guna menyempurnakan karya ini. Semoga artikel ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya. Terima kasih. Makassar, 26 September 2019
Makalah Pelestarian Flora Dan Fauna
A. Informasi Umum Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati flora dan fauna. Keanekaragaman flora dan fauna Indonesia tidak lepas dari kondisi perlindungan yang ada di wilayah Indonesia. Ada tumbuhan dan hewan yang hanya dapat hidup di daerah beriklim tropis yang banyak hujan dan sinar matahari, dan ada pula yang hanya dapat tumbuh di tempat yang dingin, basah, atau kering. Proses migrasi tumbuhan dan hewan dipengaruhi oleh kemampuannya berevolusi, beradaptasi dengan kehidupan, faktor lingkungan, biotik dan abiotik, serta faktor geologi. Dalam suatu kawasan selalu terdapat populasi suatu spesies dengan spesies lainnya, serta selalu terjadi interaksi baik langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian, muncullah kehidupan sosial atau kelompok. Jenis hewan tertentu dipengaruhi oleh keadaan vegetasi. Pada saat yang sama, tumbuhan mempengaruhi cuaca. Fauna setiap wilayah atau bioma bergantung pada ketersediaan makanan di wilayah tersebut. Keanekaragaman flora dan fauna yang demikian senantiasa membawa banyak manfaat bagi masyarakat, khususnya perekonomian. Akibat pemanfaatan sumber daya hayati yang terus menerus dan terkadang tidak seimbang dengan kelestarian alam, populasi tumbuhan dan satwa semakin berkurang setiap tahunnya bahkan mendekati bahaya kepunahan. Oleh karena itu, selain membahas persebaran tumbuhan dan hewan serta faktor yang melatarbelakangi persebarannya, artikel ini juga membahas bagaimana cara melestarikan tumbuhan dan hewan agar dapat terus dinikmati oleh anak cucu kita.
Makalah Tentang Makalah Pelestarian Alam Rehabilitasi Hutan Dan Lahan (31)
A. Sebaran tumbuhan di Indonesia menurut Kusmana dan Hekmat, (2015:187) menjelaskan bahwa istilah flora diartikan sebagai segala jenis tumbuhan yang tumbuh pada suatu daerah tertentu. Jika istilah flora mengacu pada bentuk kehidupan (life form/habit) tumbuhan, maka muncul istilah berbeda: flora arboreal (flora mirip pohon), flora semak, flora herba, dan lain-lain. Jika istilah flora dikaitkan dengan suatu nama tempat, maka muncullah istilah flora Jawa, Gunung Halimon, dll. Tergantung pada kondisi ekologinya, flora suatu tempat dapat terdiri dari berbagai jenis yang masing-masing dapat mengandung berbagai jenis gen yang hidup pada beberapa jenis habitat (habitat). Maka lahirlah istilah keanekaragaman tumbuhan yang meliputi keanekaragaman jenis, keanekaragaman genetik suatu jenis, dan keanekaragaman tempat tumbuhnya jenis tumbuhan tersebut. Menurut Kusmana dan Hikmat, (2015:187) menjelaskan bahwa pola persebaran tumbuhan di Indonesia sama dengan pola persebaran hewan yang diperoleh dari sejarah terbentuknya kepulauan Indonesia pada zaman es. Pada awal Zaman Es, wilayah barat Indonesia (Dataran Sunda: Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan) menyatu dengan benua Asia, dan wilayah timur Indonesia (Dataran Sahol) menyatu dengan benua Australia. Oleh karena itu, Indonesia merupakan daerah migrasi fauna dan flora antara dua benua. Apalagi di penghujung zaman es, suhu permukaan meningkat, permukaan air laut kembali naik, dan Pulau Jawa terpisah dari benua Asia, Kalimantan, dan Sumatera. Demikian pula pulau-pulau lain yang terpisah satu sama lain. Penelitian Wallace mengenai biogeografi hewan menunjukkan bahwa jenis hewan yang hidup di wilayah barat Indonesia berbeda dengan wilayah timur Indonesia, dengan jumlah sekitar
Dari Selat Lombok hingga Selat Makassar. Garis batas ini disebut garis Wallace. Menurut Kusmana dan Hikmat (2015:188), peneliti Jerman selain Wallace, Weber, melakukan penelitian terhadap biogeografi hewan di Indonesia, yang berujung pada terciptanya garis Weber yang menentukan batas sebaran hewan. Benua Australia hingga Indonesia bagian timur. Berdasarkan hasil proses terbentuknya bumi di Indonesia serta hasil penelitian Wallace dan Weber, secara geologi sebaran tumbuhan (dan juga hewan) di Indonesia dapat dibedakan menjadi 3 wilayah:
Kehidupan hewan dan tumbuhan sangat terpengaruh karena spesies yang berbeda mempunyai suhu lingkungan yang ideal atau optimal serta tingkat toleransi yang berbeda satu sama lain. Misalnya tumbuhan dan hewan yang hidup di daerah kutub memiliki ketahanan dan toleransi yang lebih tinggi terhadap perbedaan suhu ekstrim antara siang dan malam dibandingkan dengan tumbuhan dan hewan tropis. b Selain suhu, kelembaban merupakan faktor lain yang mempengaruhi persebaran organisme terestrial, jelas Rara (2014:159). Kelembaban udara adalah jumlah uap air dalam massa udara. Tingkat kelembaban udara secara langsung mempengaruhi persebaran tumbuhan di permukaan tanah. c Angin Dalam siklus hidrologi, angin dalam Rara (2014:162) berperan sebagai wahana yang dapat mengangkut uap air atau awan dari suatu tempat ke tempat lain. Fenomena alam ini bermanfaat bagi kehidupan di Bumi, karena uap air di atmosfer tersebar ke berbagai wilayah. Hasilnya, kebutuhan alami organisme hidup akan air terpenuhi. Pergerakan angin juga membantu pergerakan benih dan membantu proses penyerbukan pada jenis tanaman tertentu. D. Air hujan dalam Rara (2014:162) merupakan salah satu kebutuhan terpenting makhluk hidup. Tanpa adanya sumber daya air maka tidak akan ada kehidupan di bumi, tidak ada makhluk hidup yang menempati siklus hidup di bumi, sumber air utama untuk memenuhi kebutuhan hidup berasal dari hujan. Proses penyaluran air ke permukaan bumi melalui curah hujan dilakukan secara permanen. D Faktor tanah/edafis, dalam Rara (1393:162) faktor tanah disebut juga faktor edafik, yang berasal dari kata edapos yang berarti tanah atau ladang. Mengamati sebaran tumbuhan ditinjau dari faktor edafik berarti mengamati bumi dari segi vegetasi atau kapasitasnya.
Menanam tanaman. Faktor fisik dan kimia tanah yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman meliputi tekstur, struktur, dan keasaman tanah. F. Faktor topografi dalam Rara (1393:162) meliputi ketinggian dan kemiringan tanah. Ketinggian suatu tempat erat kaitannya dengan perbedaan suhu, yang pada akhirnya menyebabkan perbedaan kelembaban udara. Berbagai jenis tumbuhan tumbuh antar daerah dengan ketinggian yang berbeda-beda karena derajat adaptasi tumbuhan dan hewan berbeda-beda. 2. Faktor biotik Menurut Rara (2014:165) menjelaskan faktor biotik yang sebagian besar mempengaruhi persebaran tumbuhan dan hewan yaitu manusia. Manusia dapat menanam berbagai jenis tumbuhan dan hewan. 3. Faktor sejarah geologi Menurut Rara (2014:165) dijelaskan bahwa 200 juta tahun yang lalu hanya ada satu benua di bumi ini, kemudian benua itu pecah dan berpindah. Perubahan ini terjadi secara bertahap dan akhirnya memunculkan lima benua yang kita alami, yang memakan waktu sekitar 135 juta tahun. Dengan demikian, pada era Mesozoikum, peralihan ke bentuknya yang sekarang dimulai hingga awal era Kenozoikum. Saat itu, bumi dihuni oleh berbagai jenis ikan, reptil, burung dan mamalia, serta hewan dan tumbuhan darat. Migrasi ke anak benua menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan organisme yang dibawanya, misalnya mempunyai iklim yang berbeda sehingga hanya organisme yang mampu bertahan pada kondisi tersebut yang beradaptasi dan tidak punah. Oleh karena itu, sejarah geologi juga mendefinisikan geografi kehidupan di bumi dari segi persamaan dan perbedaan makhluk hidup.
Pdf) Pariwisata Dan Pengembangan Sumberdaya Manusia
D. Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan fauna di Indonesia Keanekaragaman fauna merupakan aset utama dalam pemanfaatan satwa. Jika keunikan dan kekhususan masing-masing komponen dapat ditemukan, penerapan ini akan mencapai efisiensi yang tinggi. Keanekaragaman jenis satwa disebabkan oleh beberapa faktor yang menyebabkan keragaman pola persebarannya, yang dapat dibedakan menjadi dua aspek keruangan (tergantung ruangan/lokasi), faktor geografis dan/atau faktor ekologi dan waktu. dimensi waktu Dengan). Faktor-faktor tersebut diserap pada setiap spesies dan berkembang membentuk ciri dan ciri masing-masing spesies (Adisoemarto, 2005:88-91).
Tiga zona hewan yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Keanekaragaman fauna berkembang di wilayah timur di barat, wilayah Australia di timur, dan Walasa di timur, serta permukaan dan komposisinya unik. Keberadaan ketiga kawasan ini juga unik karena tidak ada negara di dunia yang memiliki lebih dari satu kawasan hewan, bahkan beberapa negara berada dalam satu kawasan yang sama. Perbedaan faktor ekosistem di setiap wilayah menyebabkan keanekaragaman spesies yang hidup di sana. Faktor-faktor yang teridentifikasi mencakup kendala lingkungan terhadap kolonisasi suatu wilayah (Acevedo et al. 2005), hukum pulau yang menentukan ukuran tubuh (Lomolino 2005), gradasi ketinggian, seperti pada artropoda terestrial (Jing et al. 2005), dan Pengaruh faktor abiotik (Pidwirny, 2001), yang mencakup kolonisasi dan pendirian, termasuk pemusnahan lokal, serta deskripsi klasik sebaran geografis biota (Smith 2005). Faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan hewan terdapat di ketiga wilayah tersebut, termasuk kombinasi faktor dari daratan Asia dan daratan Australia. Oleh karena itu, keanekaragaman satwa di ketiga kawasan tersebut sangat tinggi. 2. Keanekaragaman sebaran temporal Berbagai faktor dapat mendorong keanekaragaman spesies sepanjang dimensi waktu/langkah. Dinamika populasi suatu spesies merupakan salah satu ciri variabilitas distribusi temporal (Korpimäki 2005). Dari segi dimensi tempo, spesies memiliki kemampuan
Makalah flora dan fauna, upaya pelestarian flora dan fauna di indonesia, upaya pelestarian flora dan fauna, upaya pelestarian flora fauna, pelestarian flora dan fauna, usaha pelestarian flora dan fauna, contoh pelestarian flora dan fauna, flora dan fauna diindonesia, pesebaran flora dan fauna, poster pelestarian flora dan fauna, flora dan fauna indonesia, makalah upaya pelestarian flora dan fauna